Oleh : Alter Wowor
Ketua BPC GMKI Manado

Nyiurtimes.com–INGKARNASI atau penjelmaan merupakan salah satu kata kunci untuk memaknai, merefleksikan, dan memperingati kelahiran Yesus.
Sang Pencipta yang rela menjelma menjadi ciptaan.

Sesuatu yang asing dan enigma mengejawantah menjadi sesuatu yang kemudian bisa dikenali dan dipahami.
Sang Khalik masuk ke dalam sejarah manusia menjadi seorang warga Nazaret (Galilea), lahir di Betlehem.

- Iklan -

Nama kota Nazaret sendiri konon diambil dari kata dasar “netzer” (Ibrani) yang berarti tunas atau taruk yang tumbuh. Dari perspektif etimologis itulah, Yesus kemudian dipersonifikasi juga sebagai Sang Tunas, yang memang sedikit banyak dikaitkan dengan nubuatan nabi Yesaya (pasal 11).

Oleh sebab itulah juga kita sering mendengar orang Kristen (pengikut Kristus) disapa sebagai orang Nasrani, karena Yesus sendiri berdasarkan kesaksian Injil dan banyak sumber tercatat sebagai orang Nazaret.

Dengan demikian, secara sederhana bisa dikatakan bahwa Yesus dalam keesaannya dengan Sang Bapa dan Roh Kudus, menjelma menjadi manusia sepenuhnya serta turut berada dalam keberadaan konteks manusia dan kemanusiaan.
Yesus lahir dalam suatu konteks dan kebudayaan tertentu, tidak bebas nilai dan tidak bebas pengenaan identitas.
Ia sungguh-sungguh terlibat (berinteraksi-berkomunikasi-berelasi) sepenuhnya bersama dan dalam kehidupan ciptaan-Nya sendiri.

Penjelmaan Sang Firman menjadi manusia memang melampaui epistemologi manusia.

Kebertubuhan Sang Sabda menjadi manusia adalah suatu misteri ilahi yang berada diluar kategori pemahaman dan bahasa manusia.
Suatu peristiwa yang hanya bisa diterima dengan iman.

Penjelmaan Yesus yang lahir dari rahim manusia menjadi penanda bahwa Tuhan teralami secara nyata dalam kehidupan manusia, bahkan menjadi suatu penanda bahwa Tuhan bersolider dengan ciptaan-Nya.
Kelahiran Sang Penguasa semesta itu tidak ditandai dengan suatu pesta pora dan tidak dipersiapkan dengan penyambutan yang layak, justru kehadiran-Nya di dalam dunia dan sejarah manusia ditandai dengan kesederhanaan serta ketidak-layakan.
Yesus tidak lahir dalam istana ataupun suatu rumah sakit yang diperlengkapi dengan peralatan medis yang canggih dan lengkap pada zaman itu untuk melangsungkan persalinan, Ia lahir dan dibaringkan dalam palungan, sebab tidak ada tempat bagi mereka (Maria dan Yusuf) di rumah penginapan.
Palungan sendiri merupakan tempat atau wadah atau bak tempat makanan atau minuman ternak. Walaupun tidak secara eksplisit ditulis dalam kitab-kitab Injil, namun kesaksian bahwa Yesus dibaringkan di dalam palungan menegaskan bahwa kemungkinan besar Yesus benar lahir di suatu kandang ternak di Betlehem. Suatu tempat yang tidak layak untuk dilangsungkannya proses persalinan.

Yesus adalah benar-benar Tuhan dan manusia seutuhnya, bahkan kelahirannya tidak lebih layak dari kelahiran manusia pada umumnya. Ia rela mengosongkan diri, dari Pencipta rela menjadi sesuatu yang Ia ciptakan. Memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tak terbatas, tapi lebih memilih untuk menjadi manusia yang dibaringkan dalam palungan, tidak di kasur yang mewah dan empuk.

Seorang teolog bernama Orlando Costas mengatakan bahwa “the whole of Jesus’ ministry, is framed by his being a Galilean. Galilea is a metaphor for both the political and the social backwater of the nation. As Galilean, Jesus knew what it meant to live on the margin of Jewish society. As if to emphasize the point, he made the marginal people of that society – those forgotten, abandoned – his priority.”

Menjadi seorang Galilea bukanlah suatu kebetulan, Galilea merupakan daerah yang terpencil dan terbelakang. Selain Galilea, Betlehem tempat di mana Yesus dilahirkan merupakan “yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda (lih. Mihka 5:1).”
Yesus memilih dilahirkan sebagai manusia yang bersinggungan langsung dengan kaum marginal. Di sinilah letak arti inkarnasi Yesus yang mesti dirayakan, dimaknai, dan diperingati pada setiap perayaan natal Yesus Kristus setiap tahunnya; bahwa Yesus berpihak, bersolider, dan memprioritaskan mereka yang terpinggirkan, terabaikan, terlupakan, terbuang, dan yang ditinggalkan. Solidaritas dan keberpihakan inilah yang harus menginspirasi, memotivasi, dimiliki dan dilanjutkan oleh setiap orang yang mengimani dan mengakui dirinya sebagai Pengikut Kristus (Kristen), sang orang Nazaret – Galilea itu, Tuhan; Sang Juruselamat dunia.

Selamat merayakan hari kelahiran Yesus Kristus, selamat memperingati peristiwa inkarnasi.
Tuhan beserta dan memberkati kita sekalian..

*Alter Wowor, 25 Desember 2017.